Proses Lahir Anak Pertama



Proses Lahir Anak Pertama. 
Hari itu tepat hari Ahad, 31 Maret 2019.
.
أُعِيذُكِ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk. (HR. Abu Daud 3371, dan dishahihkan al-Albani).

Alhamdulillahirabbi 'alamin, Rasa Lega, Rasa Bangga dan Rasa Syukur bercampur Rasa Haru setelah penantian yang cukup lama, tepatnya 2 tahun 4 bulan 5 hari dari Hari Pernikahan kami. Hari ini adalah waktu yang tepat dan tepat pada waktunya. Lahir Anak Pertama kami.

Hari yang sudah ditetapkan Allah Subhana Wa Ta'ala, takdir kelahiran Anak Pertama kami sekaligus hari kelahiran kami menyandang status baru -Orang Tua-.
Sejak sembilan bulan belakangan ini, Kalau dihitung sejak USG pertama, tepatnya  278 hari / 39 minggu 5 hari / 9 bulan 8 hari. Kami berdua bersama, berjuang bersama, melewati hari demi hari bersama dengan satu raga, satu jiwa, satu asupan makanan dan satu kehidupan.

Selama ini selalu mendapat dukungan, diberi perhatian dan kasih sayang yang berlimpah khususnya dari Suami, juga Mama, Ibu, Bapak, Ayah, Kakak, Adik-adik, Sepupu, Tante, Om, Nenek, Ponakan dan juga teman-teman.

Proses Lahir Anak Pertama, dimulai dari malam ini, repat pukul 01.00 Dini Hari terbangun tiap 15 menit sekali karena perut mengeras disertai sakit di semua perut sampai bagian bawah perut. Tapi tiap 15 menit bangun karena mau BAK, tapi masih bisa tidur setelah itu kemudian bangun lagi 15 menit karena hal yang sama. Itu terjadi sampai jam 03.00 subuh.

Jam 03.00 subuh mulai terasa sakit lagi dengan hal yang sama seperti sebelumnya tetapi ini untuk pertama kalinya sakit sampai ke belakang punggung dan juga disertai mau BAB, meski hanya perasaan mau tapi saat sampai di kamar mandi tidak terjadi apa-apa. Itu terjadi terus menerus tiap 5 menit sekali.

Mulai jam 03.00 itu sudah tidak bisa tidur. Sampai saat sholat subuh pun sakit itu masih terasa. Hanya bisa duduk dan cerita-cerita sama Kakak Ima, membicarakan ini kontaksi palsu atau bukan. Karena beberapa artikel yang ku baca, saat kontraksi palsu akan ada bercak darah yang keluar, tapi sampai saat ini blum ada bercak darah. Tapi tanda-tanda yang lain sudah menunjukkan kalau ini sudah kontraksi atau pembukaan 1.

Sekitar pukul 05.30 pagi, sama K Nelly, Nanna dan Ka Akbar ke Rumah Sakit Salewangang untuk periksa, apakah ini Kontraksi Palsu atau Kontraksi Sungguhan. Dan rasa sakit ini sejak jam 03.00 subuh tadi masih terasa sampai saat Di RS.

Sampai di RS diperiksa sama Bidan secara manual, dan ternyata sudah Pembukaan 3.

Beberapa pertanyaan diajukan,
Anak ke berapa
Sudah berapa lama menikah
Perkiraan lahiran tanggal berapa
Biasa periksa di dokter mana
Mau lahiran dimana

Dan diberi saran juga, kalau mau pulang boleh. Dan kalau mau lahiran disini boleh menunggu disini sampai pembukaan lengkap, dengan tanda kalau sudah sakit dengan durasi 1 menit sekali atau ada keluar air (air beda dengan  lendir) sudah bisa kembali ke sini.

Karena suamiku, K husain masih di Rawat di Perawatan Kamar B jadi ku pilih untuk jalan-jalan ke kamarnya. Saat berjalan berempat, beberapa kali harus singgah karena perut terasa sakit sekitar 5 menit sekali.

Sampai di kamar K Husain, diberi air  kiriman dari Ayah yang harus ku minum dengan Bismillah, Alhamdulillah dan Sholawat disertai niat agar dimudahkan Proses Lahir Anak Pertama dan persalinan normal. Di kamar pun sakit mulai dari perut atas, perut bawah, belakang, punggung, panggul sampai paha terasa sekali. Muncul sakit nya tiap 5 menit dengan durasi sakit 1 menit kadang 1,5 menit lamanya.

Juga muncul perasaan ingin BAK dan BAB semakin sering. Tapi saat masuk ke kamar mandi hanya BAK saja dengan darah dan lendir yang terus menerus keluar dari jalan lahir. Tapi BAB tidak ada sama sekali.
Tidak lama kemudian P Juhe, saudara dari Ayah datang membawakan air minum yang sudah di doakan agar Proses Lahir Anak Pertama dan persalinan normal lancar. Harus ku minum dengan metode yang sama sebelumnya. Juga di eluskan ke perut sambil membaca sholawat.

Tidak lama kemudian, saat durasi sakit dihitung sudah 3 menit sekali dan kadang 2 menit sekali. Waktu itu baru Pukul 09.40 pagi. P juhe pun menyarankan agar kita kembali ke depan karena durasi sakitnya sudah semakin cepat. Sempat di tawari untuk berkursi roda tapi ku fikir jalan kaki lebih efisien supaya pembukaan bertambah.

Sebelum kembali ke depan ke Ruang Bersalin, ku raih tangan k husain dan ku cium beberapa kali meminta maaf atas semua kesalahanku dan meminta izin untuk jalan ke depan menunggu pembukaan demi pembukaan.

Jalan pelan-pelan ke depan dengan P Juhe, Nanna, K Nelly dan K Akbar. Sakit itu muncul tiap 3 dan juga 2 menit sekali. Sakitnya terkadang sakit, sakit sekali dan sakit sesakitnya.

Sampai di ruang tunggu persalinan, duduk untuk minum. Minuman yang ada itu, air putih 2 botol, teh kotak 2 botol dan 1 botol sprite. Ku minum secara bergantian saat rasa sakit itu hilang.

P Juhe juga membelikan nasi kuning yang harus ku makan meski tak seberapa yang bisa masuk. Sesuap demi sesuap. Katanya harus makan supaya ada kekuatan saat melahirkan nanti. Diruang tunggu itu pun beberapa kali ku kelilingi saat rasa sakit itu datang, karena Kk Bhia menelphon tiap sakit harus jalan sambil memegang pusar diniatkan agar pembukaan segera lengkap.

Pukul 11.00 siang, karena P Juhe beberapa kali melihatku tertidur beberapa detik di kursi tiap duduk saat rasa sakit itu tidak datang. Berinisiatif menanyakan ke bidan di ruang bersalin, boleh tidur atau tidak. Dan katanya boleh. Berbaring lah saya di Ruang Bersalin itu dan tidak lama kemudian bidan datang memeriksa pembukaan saya. Dan sudah Pembukaan 6.

Tidak lama kemudian K husain datang menemuiku dan bilang kalau dia sudah keluar dari RS, meski pengurusan berkas2 baru bisa dilakukan besok harinya. Ku raih tangannya dan meminta maaf berulang-ulang sambil mencium tangannya, dia pun mengecup pipiku dengan kasi sayang yang teramat sangat ku rasakan.

Tidak lama kemudian, entah jam berapa mama juga sudah datang dari Bulukumba bersama Fadly, ku raih dan ku cium tangannya dan mama juga menciumku.
Sambil berbaring dan kadang tertidur saat rasa sakit itu hilang dan terbangun saat sakit itu datang. Nanna bergantian K Husain, Tante Wahba, dan Mama menyuapi ku Nasi atau menyodorkan air minum untukku.

Tidak ku sadari lagi berapa kali rasa sakit itu datang serasa sakit yang amat luar biasa. Yang tidak bisa diutarakan lagi bagaimana rasa sakitnya sampai kadang sudah tidak sadar dan tidak mampu membuka mata melihat orang disampingku yang menemaniku dengan sabar, yang ku tau hanya ingin ada orang yang menyayangiku disampingku menemani tiap rasa sakit itu menghampiri.

Kira-kira pukul 02.30 siang, bidan memeriksa lagi kalau sudah pembukaan 8. Saya disuruh tetap berbaring, tetap minum air putih, teh (air yang manis) dan nasi agar punya kekuatan dan tidak kehabisan kekuatan saat "mengejan" nanti ketika pembukaan lengkap.

Sekitar pukul 03.00 sore mungkin, sepertinya itu air ketuban keluar dari jalan lahir anakku, terasa sekali sampai ku reflex bilang "keluar", ku rasa seperti 1 topleks kecil berisi air yang keluar dan kemudian pecah saat jatuh ke lantai, ku dengar dengan jelas suara air ketuban itu jatuh di lantai.

Sejak kontraksi yang disebut orang helombang cinta yang rasa nya luar biasa itu, aku hanya bisa pasrah pada Sang Ilahinl Rabbi sambil mengucapkan Astagfirullah, AllahuAkbar. Ku rasa tak ada setetespun air mata menetes atau keringat merembes di pelipisku. Entah kenapa, atau mungkin ini karena bukan sesuatu yang sakit karena sakit yang membuat air mata menetes atau keringat bercucur. Wallahu alam.

Di ruang bersalin itu, entah berapa banyak Dokter, Bidan dan Suster mengelilingi ku. Memberikan instruksi seperti, "buka lebar bu yah kakinya" "kalau sakit ambil nafas dan tiup tiup saja bu di'," "kalau sakit mengejan yah bu" "mengejak seperti mau BAB" "kalau mengejan lihat perutnya" "kalau mengejan pegang pahanya" dll yang kadang susah ku lakukan karena beberapa kali ku dengar suara dengan ucapan "tidak seperti itu bu" "bukan begitu bu" "ini ibu tidak tahu mengejan" "bukan mengejak lewat leher bu, tapi di perut" dan lain lain.

Entah jam berapa pembukaan lengkap, tapi yang ku rasakan beberapa kali Dokter memeriksa pembukaan tapi belum juga bisa dimulai untuk mengejan seperti BAB.

Sekitar pukul 03.20 sore, dokter mengintruksikan untuk mengejan seperti BAB meski amat susah kulakukan. Tapi ku coba belajar dan akhirnya dokter sempat ku dengar bilang "yah begitu bu, kalau sakit mengejan seperti BAB, lihat perutnya dan tarik pahanya ke belakang, jangan angkat pantatnya" "kelihatan mi rambutnya ini anakta, kasi bagus carata mengejan kasian ini anakta".

Disampingku kadang ku rasakan K Husain menemaniku, memberikan perhatian dan kasih sayang serta semangatnya untukku. Yang ku ingat dia bilang "bukan sakit ini sayang, anakta ini sayang yang mau lahir".

Sambil masih berusahan mengejan, suster memasang infus di tangan kiri ku, dan tidak berapa lama bidan naik ke atas ku untuk membantu agar anak di dalam kandunganku bisa lahir, membantu karena saya kurang tau mengejan.

Tepat pukul 03.45 sore, rasa sakit itu datang, ku berusahan mengejan sekuat tenaga dengan cara yang sudah benar yang sudah diintruksikan sambil bidan yang berada di atas ku membantu mendorong bayi dan akhirnya keluarlah anakku, anak kami, anak pertama kami dengan selamat. Alhamdulillah.
Ku dengar samar-samar, "perempuan di',"

Tidak lama terdengar suara tangisan pertamanya.
Setelah itu, plasenta dikeluarkan kemudian dijahit. Tidak ada lagi yang ku lakukan selain berbaring lemas bahagia dan lega melahirkan putri pertama kami. Plasenta dikeluarkan dengan bidan memencet perut bagian bawahku dan langsung keluar dengan sendirinya tanpa ada yang kulakukan sama sekali. 

Kemudian dibersihkan bagian dalam secara manual oleh Bidan. Dilanjutkan dengan proses jahitan yang dirasakan tusukan jarum dan tarikan benangnya di bawah sana karena tidak dibius, entah sudah berapa jahitan tersimpan disana. Mungkin ada sekitar 1 jam proses jahitan itu.

Disudut sana, Kak Husain baru saja datang dari Sholat Ashar nya segera mendekap Bayi Mungil kita dan melantunkan Adzan dan Iqamah di telinganya. Begitu juga dengan mama yang baru datang dari Sholat Ashar.

Setelah semua proses selesai, dibersihkan dan dipasangkan pembalut juga dipakaikan sarung. Dibawalah Bayi Mungil yang tadi ku lahirkan ke dekapanku dan mencoba memberikan ASI untuk pertama kali padanya.

Rasa Haru dan Bahagia bercampur aduk kala itu. Syukur ku panjatkan pasa Sang Ilahi Rabbi, Sang Pemilik Kehidupan. Alhamdulillahirabbil a'lamin.
Mulai Pukul 01.00 dini hari sampai pukul 17.30 sore semua prosesi mulai kontraksi pertama hingga bayi mungil ku pertama kali didekatkan padaku untuk diberi ASI pertamanya. Sungguh luar biasa sekali rasanya. Kurang lebih 17 jam kami berdua berjuang bersama melewati tahap demi tahap, melewati proses demi proses yang hampir semua Ibu yang melahirkan normal merasakannya.

Bersyukur bisa merasakannya juga karena masih ada di luar sana Ibu yang ingin merasakan tiap gelombang cinta yang ku rasakan. 

Terimakasih untuk Suami dan Mamaku yang tetap berada disampingku, menemani dan mendoakanku. Kalian yang paling ku butuhkan di setiap kondisiku. 

Juga terima kasih banyak perhatian, bantuan dan dukungan dari Tante Wahba, P.Juhe, Nanna, Achmad, K Nelly, K Akbar, Kakak Ima, Bu Suhriah, Fadly, Cica, Nurul dan semua yang terlibat dikelahiran Putri Pertama Kami dari awal hingga akhirnya dia lahir kedunia ini dengan selamat. Juga terimakasih kiriman doanya untuk kami dari Bapak, Ibu, Ayah, Om, Tante, Nenek, Adik, Kakak, Sepupu dan  teman-teman. Jazakullah Khairan.
.
Terimaksih untuk Dokter, Bidan dan Perawat yang menangani kami sejak pagi hingga sore menjelang malam hari.
.
#ahad #31Maret2019 #kelahiran #anakpertama #putripertama #perempuan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suamiku - @muhhusain

HIDUPLAH BERSAMAKU